SMA Negeri 4 Banda Aceh

JL. Panglima Nyak Makam, No.19, Kec. Kuta Alam, Gampong Kota Baru, Kota Banda Aceh

Ilmu dan Amal

Mempersiapkan  Siswa Berkarakter

Senin, 22 Januari 2018 ~ Oleh Syamsiah ~ Dilihat 203 Kali


Siapa pun ingin anak-anaknya bisa bersekolah dengan reputasi bagus, berprestasi, dan memiliki fasilitas memadai.  Ironinya, masih ada anggapan bahwa gedung dan fasilitas sekolah bagus sesuai perkembangan zaman, sebagai ukuran. Sedangkan pendidikan karakter seperti apa yang diajarkan, bagaimana kualitas guru-gurunya, serta budaya di sekolah itu, cenderung diabaikan

Padahal telah menjadi perhatian berbagai Negara, bahwa mempersiapkan generasi berkualitas itu, bukan hanya untuk kepentingan individu  tapi juga untuk  masyarakat keseluruhan. Di sinilah pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk kelangsungan bangsa ini.

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek,penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Kecuali itu, kasus-kasus seperti 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011, 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011, 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI.  Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM (Sumber : Litbang Kompas), merupakan dampak dari buruknya karakter anak bangsa. Oleh karenanya, pendidikan karakter bagi para peserta didik (siswa) bukan hanya di sekolah saja, tapi di rumah dan di lingkungan sosial. Bayangkan apa persaingan yang muncul ke depan dengan persaingan global, kualitas sumber daya manusia yang terdidik dan good character  suatu keniscayaan untuk bisa memimpin dan mengelola Negara ini.

Pendidikan karakter bukan suatu domain tersendiri yang dipersepsikan dalam dunia pendidikan atau terpisah dari penguasaan ilmu. Konsepsi ini perlu diperjelas dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita. Sebab jika dipilah antara ilmu dan karakter, maka sadar atau tidak, para murid hanya fokus pada upaya serius penguasaan ilmu namun tanpa karakter.  

Karakter berhubungan dengan eksistensi manusia. Bahwa secara eksistensial, "manusia berkarakter" adalah individu yang humanistik. Itulah individu yang menempatkan altruisme sebagai kebajikan hidup. Manusia berkarakter adalah individu yang menyadari kemaslahatan sebagai milik semua orang. Kemaslahatan sengaja diperjuangkan sebagai intensi pribadi agar kemaslahatan benar-benar mewarnai kehidupan setiap orang. Karenanya, agenda  pendidikan adalah mencetak murid-murid yang mumpuni menguasai ilmu dan sekaligus humanistik.

Artinya, penguasan ilmu bukan sekadar aksesori semu yang secara substansial dan simbolik belaka. Penguasaan ilmu harus dijauhkan dan terbebaskan dari tabiat munafik. Dengan pendekatan ini berarti, berilmu sama dengan berkarakter. Semakin luas dan dalam penguasaan ilmu, semakin besar peluang seorang manusia menjadi pribadi berkarakter.

Intinya, dalam proses pembelajaran ilmu agar tidak menjadi liar, sepenuhnya diperlakukan  dialektika jiwa dan moral lewat pendidikan karakter. "Ini ibarat melihat mutiara dalam kotak perhiasan yang cantik. Kebanyakan orang hanya fokus pada kotak pembungkus di luarnya, dan bukan pada mutiara di dalamnya. Terlalu fokus pada kotak luarnya hanya akan membuat mutiaranya jadi terlupakan. Ini paradigma yang harus diubah orangtua saat bicara pendidikan," kata Bill McIntyre, Director of International Education Practice Franklin Covey, dalam seminar guru dan kepala sekolah "The Leader in Me" di Jakarta, Sabtu (5/4/2014)

Dikatakan, anak-anak adalah mutiara di dalam kotak, maka fokuslah untuk mendidiknya tidak hanya dari luarnya, yaitu sisi akademik, tapi juga karakter dalam dirinya.  Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan berupa nilai moral dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.

Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pendidikan karakter individu seseorang. Secara hakiki manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan (Pusat Kurikulum, 2010)

Pendidikan karakter mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat yang berlangsung sepanjang hayat. Di sini memerlukan metode khusus yang tepat. Di antaranya dengan memberi keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Di sini perlu pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan seluruh komponen. Dengan kata lain prosesnya tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa.

Hasil kajian pusat kurikulum nasional menyimpulkan bahwa terdapat 18 nilai karakter bangsa yang penting untuk ditanamkan pada diri setiap peserta didik. Nilai karakter bangsa yang dimaksud adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab.

Pendidikan karakter bermakna melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan setiap orang bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakternya. “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat), “ kata Theodore Roosevelt.

Artinya, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan pendidikan  bangsa kita ke depan. Sanggupkah?

Dra.Syamsiah

Guru SMA 4 Banda Aceh.

Berita Artikel
...

Bakhtiar, S.Pd

Kepala Sekolah SMAN 4 Banda Aceh mengajak semua warga sekolah untuk membangun sekolah yang berwawasan luas, kreatif, inovatif serta colaboratif