SMA Negeri 4 Banda Aceh

JL. Panglima Nyak Makam, No.19, Kec. Kuta Alam, Gampong Kota Baru, Kota Banda Aceh

Ilmu dan Amal

Format Pendidikan Islam

Kamis, 25 Januari 2018 ~ Oleh Syamsiah ~ Dilihat 426 Kali


Ditengah kompetisi kehidupan yang multikompleks sekarang ini, mendambakan pendidikan islam ideal adalah suatu keniscayaan. Tanpa pengetahuan yang memadai dan mandiri, kita akan terpinggirkan bahkan termarginalkan secara tragis di tengah kemelut krisis globalisme. Globalisasi, modernisasi, dan istilah kontemporer lainnya yang dibanggakan manusia sekarang ini bukannya tanpa menimbulkan problem yang serius. Manusia di Barat, misalnya, banyak yang terjebak dalam krisis eksistensial, teralienasi dari dirinya sendiri, bahkan sampai memutuskan ‘gantung diri’ ditengah kekayaan yang melimpah. Inilah ironi jaman modern.

Banyak sekarang fenomena yang kita lihat yang berkeinginan memperbaharui sistem pendidikan nasional Indonesia. Keinginan seperti itu tentu perlu kita sambut baik. Sebab, jika berhasil memperbaiki sektor pendidikan, akan mempengaruhi keberhasilan bangsa kita menghadapi tantangan masa depan. Hanya saja, karena menyangkut masa depan bangsa, pembaharuan sektor pendidikan tentu perlu melibatkan masyarakat luas untuk mendapatkan masukan informasi.


Sistem pendidikan Nasional

Apa yang dihadapi oleh kita saat ini tentang rendahnya mutu pendidikan dan menurunnya akhlak peserta didik sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh satu atau dua faktor saja. Sistem pendidikan formal di Indonesia memiliki beragam kendala, baik kendala internal maupun eksternal. Faktor-faktor internal memang telah diupayakan untuk dibenahi secara maksimal, akan tetapi masih perlu waktu yang lama untuk menyamai kualitas pendidikan negeri ini dengan negara lain seperti Malaysia. Kualifikasi guru-guru yang mengajar di sekolah sudah seharusnya lebih ditingkatkan lagi, karena akses anak didik sekarang terhadap sumber-sumber ilmu jauh lebih hebat dibandingkan anak didik pada generasi-generasi sebelumnya. Berdasarkan pengamatan penulis, banyak guru dan dosen yang mengajar di era teknologi informasi (IT) saat ini masih tidak mampu mengoperasikan alat-alat dan media pembelajaran yang berbasis IT tersebut. Padahal anak-anak didik (apalagi mahasiswa) memiliki ketrampilan yang jauh lebih dahsyat lagi.

Kemampuan dan penguasaan materi para guru juga menjadi sorotan yang tajam yang harus selalu diperhatikan. Mereka yang sekarang menjadi guru pada umumnya berasal dari lembaga pendidikan tinggi seperti IKIP atau Sekolah Tinggi Pendidikan lainnya yang pada saat mereka memilih kampus itu, kebanyakan memiliki kemampuan yang tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan mereka yang masuk ke Perguruan Tinggi non-kependidikan. Atas dasar itulah, program pengembangan diri dan pelatihan peningkatan kualitas guru menjadi bagian yang tidak boleh dikerjakan sambil lalu.

Sisi lain yang juga menjadi tekanan penting bagi dunia pendidikan adalah integritas atau akhlak. Proses yang baik dari sebuah sistem adalah proses yang dapat menghasilkan output yang lebih baik. Atau dengan kata lain, proses pendidikan akhlak baru dianggap berhasil manakala manusia hasil didikan bangku sekolah dan kuliah yang hidup di negeri ini memiliki kepribadian yang islami. Bukankah pepatah menyatakan “Sesungguhnya tegak dan kokohnya (jatidiri) sebuah umat sangat tergantung kepada akhlak mereka”.
Persoalan akhlak ini muncul bukan karena kurangnya materi pelajaran agama atau budi pekerti, akan tetapi lebih disebabkan karena hilangnya contoh dan model dari para orang tua dalam pengertiannya yang luas. Ketika anak-anak TK atau SD diajarkan tentang ketertiban dan kedisiplinan berlalu lintas di sekolah, mereka justru menjumpai para orang tua atau orang dewasa (pengguna jalan) melakukan pelanggaran dan berbalik dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Ketika siswa SMP atau SMA di sekolah diajarkan konsep dan nilai-nilai tentang hidup sederhana, bekerja keras untuk menggapai tujuan atau larangan mengambil hak orang lain oleh guru Agama atau guru PPKN, mereka menjumpai kondisi yang kontras dan berbalik seratus delapanpuluh derajat dengan kenyataan di rumah atau di masyarakatnya.
Mereka menyaksikan tayangan TV dan kehidupan sosial yang digambarkannya serba glamor dan serba permisif . Budaya nyontek di sekolah ketika ulangan kadang dibiarkan berlangsung terus yang pada gilirannya mereka terlatih untuk mengambil hak temannya. Mula-mula memang kunci jawaban atau cara menjawab soal ketika di sekolah, akan tetapi budaya ini akan terus berbekas manakala mereka hidup di tempat kerja atau di masyarakatnya. Mereka dengan terbiasa mengambil hak orang lain atau hak negara dengan melakukan “mark up” ketika mengajukan tender; memanipulasi data dan kegiatan ketika melaporkan pertanggungjawaban keuangan tahunan di kantor atau perusahaanya; atau bahkan membuat laporan fiksi. Semua prilaku jahat diatas mungkin juga mendapat kontribusi dari kebiasaan di sekolah atau di kampusnya beberapa waktu sebelumnya.

Bandingkan dengan sistem pendidikan Pesantren yang tidak menggunakan test tertulis (apalagi dengan pilihan ganda). Di lembaga ini, tidak ada evaluasi yang menyebabkan seorang santri mencontek hasil pekerjaan temannya. Evaluasi biasanya dilakukan dengan cara menghafal dan ujian lisan atau praktek langsung. Ilmu yang didapat seorang santri senior biasanya harus diajarkan kepada kelas yang lebih rendah, sehingga proses akumulasi pengetahuan berjalan secara mantap.

Memang, sistem evaluasi pembelajaran dari sekolah formal tidak serta merta dapat meniru sistem evaluasi yang berlaku di lembaga pendidikan pesantren. Akan tetapi yang menjadi konsen penulis adalah bahwa masalah sistem evaluasi soal model pilihan ganda meskipun dapat mewakili lebih banyak indikator pengetahuan yang telah diajarkan, akan tetapi kelemahannya adalah siswa terbiasa menebak tanpa berfikir dan mencontek dari teman-teman yang lainnya, apalagi pengawasan yang diberikan oleh guru tidak ketat
Belakangan ini beberapa pihak berkeinginan memperbaharui sistem pendidikan nasional Indonesia. Keinginan seperti itu tentu perlu kita sambut baik. Sebab, jika berhasil memperbaiki sektor pendidikan, akan mempengaruhi keberhasilan bangsa kita menghadapi tantangan masa depan. Hanya saja, karena menyangkut masa depan bangsa, pembaharuan sektor pendidikan tentu perlu melibatkan masyarakat luas untuk mendapatkan masukan informasi.

Guna mengevaluasi konsep dan sistem pendidikan nasional itu, mau tak mau kita perlu mencermati produk dari konsep dan sistem pendidikan yang telah kita terapkan itu. Kenyataan yang tak mungkin dihindari, kemakmuran materiil melahirkan berbagai akibat yang tidak hanya di sektor ekonomi tapi juga menjalar kepada aspek sosial-budaya, di mana masyarakat mengalami perubahan sikap dan tingkah laku yang cenderung menyimpang dari kebiasaan sebelumnya.

Yang harus kita tuding sebagai biang keladi ialah orang dewasa yang tak mampu menampilkan diri sebagai representasi akhlakul karimah di hadapan anak didik. Alam modern ternyata telah dapat membutakan pandangan masyarakat kita (terutama di perkotaan) dalam memilih nilai-nilai pendidikan yang berkembang di tengahtengah mereka sehingga tak mampu menentukan mana yang murni kultur Timur dan mana yang adopsi kultur Barat. Harus kita akui, kini sedang muncul gejala mulai melemahnya nilai-nilai Timur dan menguatnya kultur Barat, khususnya di kalangan anak muda.

Dari dulu telah banyak pakar berbicara supaya kita hati-hati dengan modernisasi. JK Galbraith (1983), sebagai orang Barat, sudah memperingatkan akan adanya efek modernisasi. Berdasarkan pengamatannya, Galbraith menemukan problema pokok yang harus dihadapi masyarakat modern di mana saja, yakni problema tindak lanjut sesudah modernisasi telah berhasil diwujudkan dalam bentuk kemudahan hidup dan kemakmuran materi. Sampai kini, yang rawan terkena bias modernisasi adalah aspek kultural.

Lantas bagaimana kaitannya dengan upaya pembaharuan konsep dan sistem pendidikan? Seperti dikatakan sebelumnya, hingga saat ini titik tekan tujuan pendidikan nasional kita adalah peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan secara fisik. Konsep seperti itu berdampak pada kemampuan lulusan formal yang hanya handal di sektor teori dan praktik ilmiah, serta terampil memproduk sesuatu tapi mengalami kemandulan moralitas. Padahal, secara hakiki, pendidikan dilaksanakan tidak sekadar untuk membina murid menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Dengan begitu, paradigma pendidikan yang ideal semestinya dapat menggabungkan dan sekaligus menjaga keseimbangan antara aspek fisik dan aspek moralitas. Quraish Shihab (1992) pernah mengingatkan agar tujuan pembinaan pendidikan diarahkan menjadi tiga. Pertama, pembinaan akal yang menghasilkan ilmu. Kedua, pembinaan jasmani yang menghasilkan keterampilan. Dan ketiga, pembinaan jiwa yang menghasilkan kesucian dan etika. Kategori Shihab itu bisa dipakai sebagai pedoman untuk merinci aspek-aspek pendidikan yang mesti digabungkan dan diseimbangkan.

Dengan mengombinasikan aspek-aspek di atas, akan lebih dapat dijamin lahir anak didik dwidimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman, pengetahuan dan akhlak. Tujuan pembinaan pendidikan demikian bisa dirumuskan untuk melahirkan paradigma pendidikan nasional yang ideal, yakni pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia yang berilmu, bertakwa, dan berbudi luhur.

Perlunya kita menerapkan konsep pendidikan ideal itu, terutama diilhami pengalaman pendidikan bangsa kita ketika zaman pendidikan Budi Utomo dulu dengan konsep Tamansiswanya. Waktu itu pendidikan kita memang jauh tertinggal dibanding kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dicapai saat ini. Tapi tingginya kualitas moral dan keunggulan nilai martabat manusia tetap menjadi perhatian utama. Aspek terakhir ini telah terbukti mampu membuat daya tahan bangsa Indonesia menjadi kuat sehingga berhasil mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaannya.

Hanya saja dalam perkembangannya, karena ekspansi dan penetrasi Barat terutama di bidang ekonomi sedemikian kuatnya, telah mengakibatkan bangsa kita terseret ke dalam struktur budaya dan sistem pendidikan yang menjadi kebarat-baratan. Akhirnya kita pun menerima konsep pendidikan Barat yang individualis-materialistis berparadigma liberalisme dan kapitalisme, di mana indikator kemajuan pendidikan cenderung diukur secara fisik.
Karena konsep pendidikan itu tak sesuai dengan ideologi bangsa kita, maka indikator fisik tersebut bukannya menghasilkan kemajuan tapi justru kemunduran. Ini mungkin karena di sana terkandung potensi degradasi moral dan turunnya derajat kemanusiaan. Kini selayaknya indikator kemajuan pendidikan Barat itu kita tinggalkan, dan beralih kepada indikator kita sendiri.

Tercapainya hidup berbudi luhur dan bertakwa mesti diusahakan seperti dilakukan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dalam konteks ini pendidikan agama merupakan tumpuan harapan untuk memecahkan masalah akhlak dan moral pelajar Indonesia.

Peran Pendidikan dalam membentuk kualitas manusia.

Pendidikan merupakan aktifitas yang sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena kegiatan pendidikan lahir dan berkembang sejalan dengan mainstream sejarah dan peradaban manusia itu sendiri. Lewat pendidikan paradikma hidup terus berganti (paradigm shift) dalam perjalanan kehidupan manusia. Perubahan tatanan masyarakat dari non-modern menuju modern tidak terlepas dari peran pendidikan sebagai garda depan perubahan kualitas sebuah masyarakat.

Inkeles menjelaskan pendidikan merupakan faktor terpenting yang meniscayakan ciri manusia moderen (Suwarno & Alvin 2000:31). Sedangkan kondisi modern itu sendiri bermakna perubahan struktur sosial dalam masyarakat yang membawa perubahan nilai-nilai, norma-norma dan perilaku sosial (Inkeles 1966:152). Modernisasi mengakibatkan perubahan kepribadian dalam masyarakat modern, semisal perubahan dalam prilaku, pandangan dan cara hidup serta cara berpikir mengenai nilai norma dan agama, sebagaimana pendapat Shipman (1971;20) “ modernisation does not just replace the technology, scales and tempo of live and work, but changes the expectations that govern behaviours itself “. Oleh karena itu dapat dikatakan pendidikan merupakan agent of modernisation yang memikul beban berat dalam menciptakan perubahan masyarakat demi kebaikan dan kemajuan masa depan.

Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus sesuatu bangsa. Dengan demikian, sudah selayaknya apabila kita merenung pemahaman tentang paradikma pendidikan jangan hanya dikurung dalam pengertian yang sangat sempit yakni hanya pendidikan sekolah (sekolah formal). Namun lebih dari itu nalar kita hendaknya merambah kesemua aspek kehidupan sebagai kegiatan pendidikan. Dimana aspek kehidupan tersebut dapat menjadi sarana dan media pembelajaran (Sidi 2001:4). Dari sini lahirlah satu ide menciptakan masyarakat belajar (learning society ), maknanya aktor belajar bukanlah mutlak sebagai atribut yan menempel pada peserta didik dan mahasiswa, akan tetapi aktor belajar adalah semua komponen masyarakat. Sehingga tanggung jawab kualitas dan keberlangsungan kegiatan belajar bukanlah beban total yang dipikul sekolah, namun pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama (individu, sekolah, masyarakat, tempat kerja, dan Negara). Diharapkan ketika learning society terbentuk, maka akan muncul budaya belajar (cultural learning) yan mewarnai pola hidup masyarakat belajar. Menurut Green dalam bukunya prolegomena to Ethics, ia mengambarkan “ individuals can develop a good manner or character, and hence realise themselves only within society (Bousfield 1999:106). Sedangkan menurut Al-Kaylani seharusnya pendidikan mampu membawa seseorang peserta didik untuk berperan bagi dirinya, masyarakat setempat, dan masyarakat luas.

Pendidikan ideal harus berpijak pada pengembangan keutuhan seseorang peserta didik agar muncul self-realisationnya dengan baik. Sangat tidak bijaksana ketika kegiatan pendidikan justru hanya menekankan sisi kecerdasan intelektual semata-mata. Sedangkan menurut Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence (Sidi 2001) bahwa IQ seseorang hanya menyumbang 20% dari kesuksesan seseorang, sedangkan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor lain (kecedasan intelektual dan kecerdasan emosional. Pendidikan ideal adalah yang mampu menyeimbangkan domain-domain tersebut sehingga lahirlah masyarakat peradaban (civilize culture society) atau meminjam istilah Inkeles masyarakat modern (modern society) atau lebih populernya biasa kita sebut civil society. Bentuk masyarakat seperti ini tidak mungkin akan ada tanpa lahirnya generasi yang well educated.

Sudah saatnya pendidikan di Negara kita menciptakan terobosan yang inovatif dalam setiap kegiatan pendidikanya. Untuk pendidikan sekolah, hendaknya sekolah memberikan banyak pilihan sesuai dengan kapasitas dan tingkat aktualisasi peserta didik. Di samping stakeholders yang lain selalu membangun kerjasama yang baik dengan pihak sekolah. Tentu saja kerjasama ini akan sulit dibangun jika tidak ada pihak yang berinisiatif dan mau memfasilitasi hubungan timbal balik yang baik tersebut. Dalam hal ini pemerintah hendaknya memantau dan membimbing kemajuan sekolah tanpa harus terjerumus dalam kepentingan politik sesaaat. Pemberdayaan konsep Broad-Based Education, Community-Based Education, dan School-Based Management harus terus dilaksanakan jika tidak mau disebut hanya jargon pemanis pembangunan dunia pendidikan yang sejatinya adalah pelarian pemerintah dari tanggung jawab pendidikan atas nama pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu mendewasakan masyarakat lewat pendidikan yang ideal merupakan langkah yang bijaksana yang harus dikembangkan.

Format Ideal Pendidikan Islam.

Pendidikan Islam pada dasarnya sebagai aspek pemahaman orang terhadap Islam secara keseluruhan, seperti diungkapkan Kepala Badan Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Departemen Agama, "pendefinisian pendidikan Islam merupakan pendidikan manusia secara utuh, baik rohani maupun jasmani (Mudjahid AK)

Ketika peserta didik memahami pendidikan agama yang diperoleh, dia memiliki kemampuan menerapkan secara baik, karena dalam pendidikan Islam, yang ideal adalah mampu menangkap ilmu pengetahuan dan teknologi, selain juga pendidikan agama, kemudian ilmu yang diperoleh tersebut diamalkan dalam praktek hidup sehari-hari sebagai pengabdian terhadap agama dan Sang Maha Pencipta.

Namun, tidak semua orang dapat memahami agama dengan baik dan hidup layak, Itu artinya, kegagalan pendidikan agama pada masyarakat. Akibatnya, terjadi kasus-kasus pemerkosaan, tawuran, pembunuhan, dan masih banyak kasus lainnya.

Oleh karena itu, madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam perlu ditingkatkan kualitas dan sarana prasarana, serta penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Sebab, dari tahun ke tahun animo masyarakat terhadap lembaga pendidikan madrasah semakin meningkat, sesuai dengan Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 yang menghilangkan dikotomi sekolah agama dengan sekolah umum, diintegrasikan dalam pendidikan nasional. "Puslitbang selalu membantu dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan Islam yang dikeluarkan pemerintah.

Peran pendidikan memiliki posisi strategis sebagai investasi sumberdaya manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya, sekaligus untuk mewujudkan kompetensi secara manusiawi dan profesional di bidangnya seiring dengan kemajuan pengetahuan, sains dan teknologi. Namun masalahnya, persoalan klasik di dunia pendidikan, seperti kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan dan rendahnya tingkat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, hingga kini masih menghantui dunia pendidikan di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah angka pengangguran yang cenderung semakin meningkat di Indonesia, yang kenyataannya tidak hanya dipengaruhi oleh terbatasnya lapangan kerja. Namun adanya perbedaan yang cukup besar antara hasil pendidikan dan kebutuhan kerja. Kondisi ini semata-mata bukan hanya dipengaruhi oleh masalah teknis dan non-teknis pihak penyelenggara, tetapi lebih disebabkan oleh faktor eksternal.

Guna merespon fenomena dunia pendidikan diwarnai kondisi sembrawut, Pemerintah seharusnya perlu memperhatikan masalah sarana dan prasarana pendidikan, sistem pendidikan, kurikulum, kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen), dll. Selain itu, perlu dilakukannya perbaikan dan pembenahan serta reformasi substansial dengan memadukan penguasaan sains dan teknologi, serta perlunya peningkatan pemahaman iman dan takwa yang kokoh kepada Allah SWT melalui jalur pendidikan.Melalui langkah-langkah yang tepat dan strategis, diharapkan sektor pendidikan dapat menjawab berbagai permasalahan dan tuntutan perubahan pendidikan di Indonesia, serta dapat mendorong lahirnya pribadi yang beriman dan bertakwa. Lebih jauh upaya peningkatan mutu dan pelayanan pendidikan kepada masyarakat tersebut, sangat sejalan UUD 1945 yang menjamin hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan demikian, melalui grand design pembangunan pendidikan yang konsisten, sistem pendidikan di Indonesia dapat bangkit dan mampu menyongsong masa depan yang lebih baik.

Berbicara mengenai format pendidikan islam yang ideal, tidak lepas dari berpedoman kepada Al-qur’an dan hadist, karena keduanya adalah pondasi besar dalam menentukan baik-buruknya sistem kehidupan. Jika selama ini kita selalu terkacaukan oleh banyaknya suguhan-suguhan metode yang ditawarkan dalam rangka penyempurnaan sistem pendidikan, maka langkah cerdasnya marilah kita kembali pada rujukan terbesar dan terbenar yaitu Al-qur’an dan

 ‘Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa’ (Al-baqarah : 2)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. membaca firman Allah yang berbunyi: Dialah yang menurunkan Alkitab (Alquran) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang-orang yang berakal. Setelah membaca firman tersebut Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari Alquran, maka mereka itulah orang-orang yang telah disebut oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka. (Shahih Muslim No.4817)

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Saw.” (HR. Muslim).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel
...

Bakhtiar, S.Pd

Kepala Sekolah SMAN 4 Banda Aceh mengajak semua warga sekolah untuk membangun sekolah yang berwawasan luas, kreatif, inovatif serta colaboratif